KOTA BEKASI – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan membuka Apel GEBRAK yang digelar bersamaan dengan momentum groundbreaking Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang.
GEBRAK merupakan singkatan dari Gerakan Energi Bersih, Reduksi Sampah, Aksi Pilah, Kolaborasi Inovatif. Gerakan tersebut menjadi ajakan untuk menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam penanganan sampah Kota Bekasi.
Zulkifli Hasan atau Zulhas menilai pembangunan PSEL merupakan terobosan penting di sisi hilir. Teknologi waste-to-energy diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu sekaligus menghasilkan energi listrik.
“Groundbreaking pembangunan PSEL hari ini adalah solusi strategis di sisi hilir untuk mengurangi beban TPA Sumur Batu yang saat ini menampung produksi sampah warga masyarakat Kota Bekasi kurang lebih 1.800 ton per hari,” ujar Zulhas.
Meski demikian, Zulhas menegaskan teknologi tidak dapat menggantikan peran masyarakat. Pengurangan dan pemilahan sampah harus menjadi kebiasaan sehari-hari yang dimulai dari rumah tangga, lingkungan RT/RW, kelurahan hingga kecamatan.
Menurutnya, konsistensi menjalankan reduksi sampah diperlukan agar persoalan kelebihan kapasitas tempat pemrosesan akhir tidak terus berulang. Karena itu, PSEL dan gerakan pemilahan harus berjalan secara bersamaan.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mendukung arahan tersebut dengan meminta jajaran wilayah, unsur keamanan, penggiat lingkungan, LPM, BKM serta Ketua RT dan RW mengoptimalkan bank sampah.
Tri juga mendorong gerakan pemilahan diterapkan di sekolah dan perkantoran. Pasalnya, masih terdapat sekitar 300 ton sampah per hari yang harus diselesaikan melalui pengurangan dari sumbernya.
Zulhas meminta proyek PSEL terus dikawal agar selesai sesuai jadwal. Ia berharap kolaborasi pemerintah dan masyarakat melalui GEBRAK dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah serta menghadirkan lingkungan Kota Bekasi yang lebih bersih.
